
Prof. Stella Christie Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi menerima delegasi Majelis Dewan Guru Besar PTNBH yang dipimpin Prof. M. Baiquni. Deep Dive Discussion selama 2,5 jam dari sore hingga malam, perbincangan yang hangat dan penuh canda para guru besar menyampaikan Policy Brief dengan sembilan rekomendasi (Rabu, 20/11).
Majelis Dewan Guru Besar Perguruan Tinggi Badan Hukum (MDGB-PTNBH) se Indonesia mengangkat tema Gerakan Mencerdaskan Kehidupan, dalam menghadapi perubahan yang cepat dan mendasar terkait dengan teknologi digital dan perubahan perilaku manusia terkait dengan lingkungannya, yang akhir-akhir ini banyak persoalan dan permasalahan yang harus dihadapi. Hadir bersama anggota dari perguruan tinggi negeri lain yaitu Prof. Ade Gafar (UPI), Prof. Zuzy Anna (UNPAD), Prof. Sidik Permana (ITB), Prof. Sukir Maryanto (UB), Prof. Sitti Bulkis (UNHAS), Prof. Izarul Machdar (UNSYIAH), Prof. Harini (IPB), Prof. Riri Fitri S (UI), Perwakilan dari UIII dan WWF-Indonesia.
Analisis permasalahan internal kampus yang sedang dihadapi perguruan tinggi sangat kompleks, antara lain: Merebaknya plagiarisme; Fake authorship/scientific fraud/ghost writer, Permasalahan penggunaan AI dalam penulisan, riset dan ujian; Konflik kepentingan (Conflict of interest) dalam kegiatan akademik; Penelitian yang tidak bersandar pada scientific method; Laporan Penelitian disesuaikan dengan ‘pesan sponsor’; Jual beli nilai & gelar akademik; Kekerasan verbal dan seksual di kalangan sivitas akademia.
Analisis persoalan bangsa yang sedang menghadapi kemerosotan moral etika berdemokrasi dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan krisis yang mendasar. Kemaksiatan merajalela, seperti: kriminalitas, pelanggaran HAM, pinjol dan judol yang membobol dompet rakyat miskin, gaya hidup pamer flexing dan sosialita glamour, kejahatan cyber, minuman keras, prostitusi. Korupsi, nepotisme dan kolusi (KNK) telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan wajar di berbagai lapisan masyarakat.
Dari Sembilan rekomendasi, yang menarik ada tiga yang disampaikan para guru besar yang disimak dan dicatat Stella Kristi, antara lain Pertama, pengembangan fungsi dan peran guru besar dalam pengembangan dan penguatan keilmuan dengan penelitian dasar (matematika, fisika, kimia, biologi dan geografi) maupun penelitian sosial humaniora (yang teramat luas termasuk filsafat, seni dan budaya). Kedua, bahwa belajar dan bekerja di era digital dengan Adaptasi, Cerdas dan Transformatif (ACT) terkait pengembangan dan pemanfaatan Artificial Inteligent dengan Academic Integrity. Ketiga, mengembangkan The ALTITUDE Leadership (Academic Leadership Training on Innovative Transformation for University Development and Empowerment) bagi para guru besar sebagai pemikir bangsa maupun pimpinan universitas.
Kepakaran Stella Christie adalah Cognitive Science, yang pernah menjadi. Dosen di Amerika dan China. Ia menyampaikan pentingnya bahwa: “inovasi iptek yang bisa dihasilkan universitas dan dikembangkan melalaui industri untuk diproduksi masal yang dapat memenuhi konsumsi dalam negeri maupun eksport, serta mendorong pertumbuhan ekonomi”. Lanjutnya ia juga memberikan arahan: “Peran Pendidikan tinggi penting untuk menghasilkan para pemuda yang berkualitas yang punya skill teknis hingga manajerial dan kepemimpinan untuk dapat mengembangkan usaha bisnis, menggerakkan industri, maupun membuka usaha mandiri”.
Sebagai tindak lanjut Stella berharap dukungan para guru besar untuk turut serta mengkaji kembali kebijakan IKU (Indikator Kinerja Utama) perguruan tinggi. Para guru besar diberi tugas untuk memberi masukan yang konseptual maupun praktis guna perbaikan sistem Pendidikan tinggi, dimana sain dan teknologi disemai untuk pertumbuhan masa depan berkualitas. Dalam waktu dekat diperlukan masukan yang langsung dapat digunakan untuk kebijakan dengan mengakomodasi aspirasi dari bawah para pimpinan perguruan tinggi, sehingga ketika kebijakan diputuskan kementerian telah sesuai dengan dinamika di lapangan.
Pemberita
Heru Sutrisno