Diskusi Sumbangsih Pemikiran Guru Besar pada Tahap Rehabilitasi dan Rekonstruksi Daerah Aliran Sungai: Kasus Bencana Sumatera

Keprihatinan akademisi dengan terjadinya bencana sumatera pada akhir tahun ini membuat Dewan Guru Besar Universitas Gadjah Mada (DGB UGM) berinisiatif menggagas pemikiran para pemerhati lingkungan pada Senin (22/12). Di buka  oleh ketua DGB UGM Prof. Baiquni, diskusi ini bertujuan secara umum menyusun pemahaman bersama mengenai kondisi, permasalahan, dan prioritas penanganan DAS di Sumatera berbasis data, ilmu geografi, hidrologi, geologi dan geomorfologi, kehutanan, lahan dan tata ruang, demografi, sosial budaya, dan kebijakan pembangunan berkelanjutan. Secara khusus membentuk tim kerja untuk sumbangsih pemikiran pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi Daerah Aliran Sungai. Sebagai pemantik kegiatan diskusi ini DGB UGM sementara mengundang Wakil dari Organ yaitu MWA dan SA, 2 Wakil Rektor, 2 Dekan, Kepala Pusat Studi terkait, dan Guru Besar pemerhati Lingkungan dan Masyarakat.

Sayang sekali bahwa dalam dua dasawarsa terakhir, DAS di Sumatera menghadapi tekanan serius akibat alih fungsi lahan (perkebunan, tambang, permukiman), deforestasi dan degradasi hutan hulu, banjir dan sedimentasi, pencemaran air, konflik pemanfaatan ruang dan sumber daya air, perubahan iklim (Wiyoga, 2025). Untuk itu, diagnosis terhadap DAS diperlukan sebagai dasar ilmiah dan kebijakan untuk mengidentifikasi tingkat kesehatan DAS, sumber masalah utama, dan arah pengelolaan berkelanjutan. Dewan Guru Besar Universitas Gadjah Mada bermaksud menyelenggarakan diskusi terbatas atas berbagai macam isu kebijakan mengenai DAS, khususnya di kawasan Sumatera bagian utara bersama para pakar dan Guru Besar yang cukup banyak terlahir di tiga provinsi yang terdampak oleh bencana banjir bandang belakangan ini.

Sumatera memiliki sejumlah DAS strategis nasional seperti DAS Musi, Batanghari, Indragiri, Kampar, Siak, Asahan, dan Way Seputih yang berperan vital bagi banyak hal, termasuk diantaranya: ketahanan air, pertanian dan pangan, energi (PLTA), pariwisata, transportasi, keanekaragaman hayati, serta kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Banyak pakar dan peneliti yang sudah menekankan begitu pentingnya konservasi dan pengelolaan di kawasan DAS karena fungsinya yang sangat vital tersebut (Harahap, 2022). Setidaknya, ada 5 (lima) fungsi yang dapat segera diidentifikasi dan memiliki landasan strategis yang kuat.

Prof. Agus Maryono mengatakan kesiagaan dalam penanggulangan bencana ini dikatakan ada periode jangka pendek siaga akan datangnya siklon dan jangka panjang dengan tata ruang DAS, Ketersediaan sandang pangan papan yang cukup di tiap kabupaten Harus ada. Early warning sistem perlu disiapkan, dengan adanya bencana masyarakat tidak boleh lemah. Bencana sebagai pengungkit untuk bangkit dan menjadi peluang penelitian sebagai sumber informasi bagi masyarakat dan pemerintah bisa didelivery karena setiap pembangunan harus ada keberlanjutannnya.

Foto: Dokumentasi DGB

Di daerah Aceh khususnya perlu pengembangan etnografi bagi masyarakat, dengan kearifan lokal sebagai modalitas sosial (contoh sosial kapital daerah sekitar bencana saat gempa di Bantul), sehingga bencana yg terjadi sudah bisa di antisipasi secara mandiri. Berharap UGM punya modul-modul, ada studi terkait bencana sumatera, dan berkaca pasa ekspedisi patriot yang UGM sudah lakukan belakangan ini, ujar Prof. Bambang Hudayana.

Prof. Sri Raharjo berpandangan pada sisi penyediaaan pangan pola distribusi dan pemanfaatannya serta cara menyediakannya.Pengelolaan bisa dari cadangan pangan nasional pada level nasional, kantong-kantong pangan olahan diusulkan penyedia lokal, bukan dari produk luar (dengan memperhatikan perjalanan distribusi sehingga makanan tidak mudah rusak). Dari distribusi makanan saat bencana harus lebih hati-hati jika melewati daerah terdampak, pemanfaatnya makanan bisa dirasakan mudah dan tidak menyulitkan. Sehingga perlu disiapkan mekanisme penyaluran pada daerah-daerah tersebut. Seperti panti-panti sosial, dll.

Arah tanggap darurat sudah banyak lesson learn, bencana di Sumatera diharapkan ada desa tanggap bencana, diperlukan mitra Perguruan Tinggi setempat dijadikan knowlede sharing selama ugm lakukan. Kita juga ada Forum Rehabilitasi Bencana (FRB). Dikatakan oleh Prof. Djati Mardiatno dari Pusat studi Bencana UGM mengatakan sudah ada Tim 7 sdh bergerak, tinggal konsolidasi untuk tindaklanjutnya.

Diskusi yang berjalan mencakup dimensi interdisipliner dan spasial, meliputi: Kondisi Biofisik DAS, Tekanan dan Aktivitas Manusia, Dampak Lingkungan dan Risiko Bencana, Aspek Sosial, Ekonomi, dan Kelembagaan, Kebijakan dan Pengelolaan DAS.

Masukan yang dihasilkan berupa ide-ide seperti mengapa kita peduli bencana Sumatera dan memfokuskan diagnosis DAS terdampak, bagaimana kondisi kesehatan DAS utama di Sumatera saat ini, faktor apa yang paling dominan menyebabkan degradasi DAS, bagaimana keterkaitan antara hulu–tengah–hilir DAS, sejauh mana kebijakan dan tata kelola DAS berjalan efektif, bagaimana peran masyarakat lokal dalam menjaga DAS, strategi apa yang paling realistis untuk pemulihan DAS Sumatera.

Foto: Dokumentasi DGB

Diagnosis DAS Sumatera merupakan langkah awal krusial untuk memastikan pengelolaan sumber daya air yang adil, berkelanjutan, dan berbasis ilmu pengetahuan. Melalui diskusi ini diharapkan terbangun komitmen bersama dalam menjaga DAS sebagai tulang punggung kehidupan dan pembangunan Sumatera.

Prof. Baiquni mengatakan hasil diskusi diharapkan kesepakatan peserta diskusi untuk membantu tahap rehabilitasi dan rekonstruksi dengan merumuskan gagasan kajian Diagnosis Daerah Aliran Sungai (DAS) Sumatera, ada skema kegiatan penelitian, dukungan pendanaan, dukungan keahlian, kolaborasi dengan mitra. UGM banyak pemikiran-pemikiran yang bisa menjadi problem solving berkoordinasi dan menggalang dengan Kagama untuk persiapan rehabilitasi juga merealisasikan kurikulum kebencanaan, Pungkasnya.

 

Penulis: Heru Sutrisno

Editor: Wahyudi Kumorotomo

Tags: slide

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*